TUMBANG ANAK USIA 13-15 TAHUN & SEX EDUCATION

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
USIA 13 – 15 TAHUN

PENDAHULUAN

Anak usia 13-15 tahun merupakan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak sebelumnya. Anak dalam usia ini biasa disebut dengan remaja menengah dan akan masih berlanjut ke tahap pertumbuhan dan perkembangan anak remaja lanjut dan dewasa muda. Anak pada masa remaja merupakan anak yang sedang mencari jati diri atau anak yang sedang gemar mencari tahu dirinya serta ingin mengenal dunia luar yang sebelumnya belum pernah ia kenal. Untuk itu, hal-hal yang tidak kita inginkanpun sering terjadi seperti kasus perkelahian antar pelajar, maraknya vcd/dvd pono, merokok, mencoba minum-minuman keras atau bahkan sudah melakukan hubungan intim dan mencoba NAPZA.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 13-15 TAHUN

Proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia 13-15 tahun terus berlanjut sesuai tahapan perkembangan yang akan ia dapati dikemudian hari. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 13-15 tahun antara lain :

Perubahan Fisik dan Maturasi Seksual

Perubahan fisik terjadi dena cepat pada tahapan remaja menengah. Maturasi seksual terjadi pada tahapan ini seiring dengan perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder. Karakteristik seksual berupa pertumbuhan fisik dan hormonal.

Ada 4 fokus utama perubahan fisik :
1. Peningkatan kecepatan pembluh darah dalam tulang dan otot è dipengaruhi oleh perkembangan hormon paratiroid yang menghasilkan kalsitonin yang merangsang percepatan penyerapan kalsium dalam darah dan percepatan suplainya ke tulang dan otot.
2. Perubahan spesifik seks, seperti bau keringat è Seiring dengan sekresi hormon adrenal yang merangsang pertumbuhan rambut pada aksila, maka hormon androgen tersebut juga menstimulasi kelenjar apokrin berlebih dan hal ini mulai muncul istilah bau badan.
3. Prubahan distribusi otot dan lemak è Peningkatan metabolisme tubuh berdampak pada kecepatan pertumbuhan lemak dan otot. Menurut penelitian pada tahapan ini terjadi deposit atau penumpukan lemak yang terjadi pada perempuan dan peningkatan massa otot pada laki-laki (4x lebih cepat dari pada wanita).
4. Perkembangan alat reproduksi dan karakteristik seks sekunder è Hal ini merupakan pengaruh dari hormon estrogen/progesteron dan testosteron pada pria.

Tidak ditemukan perbedaan perkembangan saraf pada anak usia remaja menengah, meskipun perubahan itu hanayalah proses kantuk dan tidur. Pada usia remaja menegah dapat dilihat tidak terjadi perubahan siklus tidur pada malam hari, namun proses kantuk terjadi lebih tinggi pada fase ini pada siang hari. Orang tua terkadang memandang anak tersebut malas-malasan.

Perubahan Berat Badan dan Skelet

Meningkatnya tinggi dan berat badan biasanya terjadi selama laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan yang terjadi pada wanita biasanya pada umur 8-14 tahun (TB=5-20cm dan BB=7-27,5kg). Laju pertumbuhan yang terjadi pada laki-laki biasanya terjadi pada umur 10-16 tahun (TB=10-30cm dan BB=7-32,5cm)

Lemak didistribusi sesuai proporsi dewasa seiring dengan peningkatan dan secara bertahap, tubuh remaja menengahpun sudah menunjukkan tubuh dewasa. Kurva pertumbuhan personal membantu perawat mengkaji perkembangan fisik. Peningkatan terus-menerus pada individu merupakan hal penting dalam mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak usia remaja menengah.

Pubertas

Pada beberapa penelitian, anak laki-laki yang matur dini terlihat lebih rileks, tenang, santai dan lebih banyak menikuti aktifitas olahraga dan kepemimpinan di sekolah dibandingkan dengan anak laki-laki yang maturnya terlambat. Sedangkan anak perempuan yang matur dini, terlihat kurang dapat bersosialisasi dan lebih malu serta berpusat pada dirinya sendiri.

Semua perubahan ini terjadi karena hipotalamus memproduksi GnRH (Gonadotropin Relating Hormone) yang merupakan sinyal bagi hipofisis untuk mensekresi hormon gonadotropik (FSH dan LH). FSH dan LH akan menstimuasi hormon yang terdapat di ovarium dan testis. Remaja menengah akan merasa lebih dewasa sejak pertama kali merasakan menstruasi dan mimpi basah.

Perkembangan Kognitif

Remaja menengah mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan pemikiran yang masuk akal (logis). Bila dihadapkan dengan masalah maka tolak ukur remaja adalah dari penyebabnya dan memiliki banyak solusi, sehingga dalam kelompok remaja menengah apabila terjadi kesalahan mereka masih saling melemparkan masalah dan saling tuduh.

Perbedaan anak-anak dengan remaja menengah adalah pada tolak ukurnya. Tolak ukur anak-anak adalah ”apa itu” sedangkan tolak ukur remaja menengah adalah ”kenapa bisa seperti itu”. Perkembangan kognitif membantu remaja menengah untuk mencari identitas. Kemampuan untuk berpikir logis tentang perlaku ini, akibatnya akan mendorong remaja menengah untuk mengembangkan pemikiran dan cara personal dalam mengekspresikan identitas seksual.

Ketrampilan Berbahasa

Perkembangan berbahasa remaja menengah meskipun kosakatanya kurang lengkap. Fokus utamanya adalah pada ketrampilan berkomunikasi yang dapat digunakan dalam berbagai komunikasi. Remaja menengah mengkomunikasikan pemikiran, perasaan, dan kenyataan pada orang tua, guru, teman sebaya adalah berbeda. Misalnya, remaja menengah akan berbeda menyampaikan pengalaman pahit dia mendapat nilai 0 MTK pada orang tua dan rekan sebayanya. Remaja menengah ini terus mengembangkan ketrampilan berbahasa dan gaya berkomunikasi dalam kehidupannya.

Perkembangan Psikososial

Pencarian identitas diri merupakan tugas utama remaja menengah. Masalah perkembangan psikososial pada remaja menengah adalah kebimbangan dan kurang mampunya menentukan pekerjaan karena belum adanya pengalaman.

Sekolah dan kelompok sebayanya mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan keluarga. Remaja menengah laki-laki umumnya menurut penelitian tujuan perkembangannya adalah memperoleh penerimaan dan kebebasan dalam berekspresi. Sedangkan wanita tujuan perkembangannya adalah menumbuhkan kemampuan intrapersonal dan cinta. Sehingga kesetiaan, keterlibatan, dan keakraban lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki.

Proses membutuhkan teman sebaya yang mempunyai interaksi lebih akan mulai terjadi, sehingga pacarnpun akan juga terjadi.
Proses pacaran pun mulai terjadi :
1. Tahap Pertama
Pada tahap ini, biasanya melakukan kontak batin tanpa melakukan kontak fisik yang berarti.

2. Tahap Kedua
Tahap ini adalah meraba buah dada yang masih tertutup pakaian

3. Tahap Ketiga
Meraba buah dada yang telanjang bahkan kemaluannya juga

4. Tahap Keempat
Tahap ini melakukan hubungan intim pada pasangan tunggal

5. Tahap Kelima
Tahapan ini melakukan hubungan intim pada pasangan multipel.

Walaupun demikian, dilaporkan tidak banyak kasus yang berhubungan remaja menengah melakukan pacaran sampai pada tahap keempat dan kelima.

Identitas Kelompok

Remaja menengah mencari identitas kelompok karena mereka membutuhkan harga diri dan penerimaan dalam kelompok sebayanya. Popularitas merupakan masalah yang utama. Mereka akan menciptakan ikatan yang kuat antar teman sebayanya. Hal ini berhubungan dengan perkembangan kognitif yang sedang terjadi pada tahapan ini.

Identitas Keluarga

Hubungan dengan teman sebaya, pacar dan sekolah mempunyai pengaruh lebih kuat dari pada dengan keluarga. Hal ini berkaitan dengan identitas kelompok yang sedang mereka kembangkan. Pada tahapan ini tugas keluarga terutama orang tua adalah membimbing remaja menegah agar tidak terlalu disibukkan dengan dunianya sehingga berisiko untuk jauh dari kontak batin dengan keluarga. Misalnya, dengan mengajak berdiskusi dengan remaja dan juga pergi berekreasi dan mencari hal-hal mengasyikan dengan remaja.

Identitas Kesehatan

Remaja menengah kurang mempertimbangkan identitas kesehatan. Hal ini disebabkan karena remaja menengah lebih berpusat pada identitas sebayanya. Namun para peneliti tidak memandang dengan mentah tanggapan seperti itu, karena remaja menengah lebih baik dalam identitas kesehatan dengan menggunakan parfum, roll on, penggunaan shampoo yang telah mereka sesuaikan, mengatur pola makan agar tidak gemuk dll.

Identitas Moral

Perkembangan penilaian moral bergantung pada ketrampilan kognitif dan ketrampilan dalam menggunakan bahasa. Dengan menggunakan kedua aspek tersebut, maka remaja menegah dapat dengan cepat diterima oleh masyarakat. Menaati peraturan adalah hal tersulit bagi remaja menengah pada umunya, karena dipengaruhi oleh perasaan kebebasan berekspresi dan pengaruh dari teman sebaya yang berberda pada pola asuhnya.


MASALAH KESEHATAN PADA ANAK USIA 13-15 TAHUN

Masalah medis yang sering ditemukan pada fase semua remaja (awal, menengah, dan akhir) biasanya adalah :
Akne vulgaris, yang dapat menimbulkan gangguan emosional
Miopia, biasanya mulai timbul pada usia remaja
Kelainan ortopedik, seperti kifosis dan skoliosis
Penyakit infeksi, TBC dll karena daya tahan tubuh yang menurun
Defisiensi Fe, biasanya terjadi pada pelajar yang tidak/jarang sarapan setiap pagi serta remajaputri yang sedang haid.
Obesitas, karena kurangnya aktifitas, peningkatan suplai makanan, serta perlindungan orang tua yang menyamakan mereka dengan anak-anak pada umumnya.
Kenakalan remaja, seperti maraknya video porno, gank motor, perkelahian antar pelajar demi membela teman satu sekolahnya dengan dalis sohib dan setia kawan dll
Gangguan emosional, perilaku penggunaan NAPZA, perilaku bunuh diri karena putus cinta dll


PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pengkajian keperawatan pada anak remaja menengah adalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak usia remaja. Penkajian meliputi informasi afektif meliputi :
- Kemampuan pemahaman anak
- Kerjasama anak
- Penerimaan tanggung jawab anak

Pengkajian motorik dapat dilakukan dengan mengobservasi :
- Penampilan berpakaian
- Membuka pakaian ketika sekolah
- Kebersihan diri
- Perkembangan akne

Pengkajian kognitif dapat dilakukan dengan :
- Laporan peringkat kelas
- Kegiatan ekstrakulikuler favorit
- Kegiatan di luar sekolah favorit

Serta pengkajian-pengakjian sesuai form asuhan keperawatan, seperti :
- Keluhan yang dirasakan saat ini
- Riwayat penyakit terdahulu
- Riwayat penyakit keluarga
- Pengkajian psikososiospiritual
- Pengkajian KDM
- Dll


DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

Perubahan pola seksualitas b.d ketakutan tentang kehamilan, konflik/stresor, depresi terhadap kematian dan kehilangan pasangan
Gangguan harga diri b.d pola penganiayaan waktu kecil
Risiko kehamilan b.d kurangnya pengetahuan penggunaan alat kontrasespsi
Risiko tertularnya PMS b.d kurangnya pengetahuan penggunaan alat kontrasespsi

Untuk saat ini intervensi keperawatan yang berhuubungan dengan ini semua adalah promosi kesehatan seksualitas.


PROMOSI KESEHATAN SEKSUALITAS

Program kesehatan komunitas dan sekolah bagi remaja adalah peningkatan pengetahuan dan pencegahan penyakit. Menurut Nelson (1995) agar dapat mengungkapkan yang mendalam tentang informasi perilaku seksual berisiko, langkahnya adalah dengan membuat remaja menjadi nyaman dan dihargai sebagai individu. Masalah yang cukup menarik bagi para peneliti adalah dengan risiko tingginya penyalahgunaan NAPZA dan seksual serta kelainan seksual. Untuk itu penting bagi perawat untuk memberikan penyuluhan kepada pelajar tentang kesehatan reproduksi sejak dini.

KONSEP DASAR SEKSUALITAS

Seks merupakan hal yang dianggap tabu untuk diperbincangkan oleh orang dewasa pada umunya. Seksualitas sangat sulit untuk didefinisikan karena seksualitas memiliki aspek kehidupan dan diekspresikan dalam berbagai perilaku. Kesehatan seksual telah didefinisikan sebagai hasil dari kematangan aspek somatic, emosional, intelektual, dan aspek sosial dari kehidupan seksual dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta (WHO, 1975)

DIMENSI AGAMA DAN ETIK SEKSUALITAS

Menurut Masters, Johnson dan Kolodny (1982) keputusan seksual secara garis besar berdasarkan pada pendekatan beragama. Benar salahnya secara seksual berkaitan dengan sikap dan keyakinan beragama tersebut.

Sedangkan dari pandang etik, adalah bagaimana cara pandang seseorang mnyikapi perilaku seksual. Hal itu tergantung pada kepribadian dan lingkungan sosial.

DIMENSI PSIKOLOGIS SEKSUALITAS

Seksualitas bagaimanapun mengandung perilaku yang dipelajari. Remaja menengah biasanya sudah berkenalan dengan masturbasi serta mulai mengikuti tahapan pacaran. Hal itu biasanya diaanggap sebagai sebuah hal yang sudah banyak diketahui dan tidak perlu untuk dipebincangkan lagi.

Menrut riset, orang tua memperlakukan anak dengan berbeda. Anak laki-laki cenderung kamarnya didesain dengan nuansa bola, robot, kepahlawanan dll. Sedangkan perempuan, cenderung kamarnya didesain sesuai dengan perasaan mereka, yaitu dengan boneka-boneka lucu lukisan yang bernuansa lembut dan penuh dengan perlengkapan make up mereka. Orang tua mendorong anak laki-lakinya untuk melakukan eksplorasi diri dan tindakan mandiri serte relawan. Sedangkan anak wanita didorong untuk menjadi anak yang ringan tangan serta meminta bantuan (Denney & Quadagno, 1992)

IDENTITAS SEKSUAL

Studi seksual mulai dikenalkan pada tahun 1940-1950an. Di Amerika persentase orang heteroseksual (mencintai lawan jenis) lebih kecil dibandingkan dengan homoseksual (mencinta sesama jenis), namun pada kenyataannya tidak semua seperti itu karena homoseksual masih terdiri dari orang biseksual (mencintai sesama maupun lawan jenisnya).

Mencintai sesaa jenis merupakan gaya hidup dan bukan dipandang sebagai suatu kelainan seksual (WHO, 2005). Identitas seksual remaja menengah haruslah diarahkan kepada hal yang positif dalam arti mencintai lawan jenisnya, namun tidak semua hal itu dapat diterima karena pengalaman sodomi, perilaku KDRT serta penghinaan jender menyebabkan remaja menengah dapat berorientasi kepada hal yang ia rasa adalah tempat persinggahan yang nyaman dan mudah diterima, meskipun masih bersebunyi-sembunyi.

VARIASI DALAM EKSPRESI SEKSUAL

Transeksual merupaka pengertian dari ruh yang berbeda dengan alat kelaminnya. Contoh seorang pria merasa Tuhan salah menempatkan ruh kedalam raga pria, ia meraa ia bukan pria tetapi wanita. Perilakunya adalah menyelipkan alat kelamin di pergelangan pahanya karena ia tidak mau melihat penisnya sendiri (Operah Winfrey, 2007)

Transvesttive merupakan pengertian dari seseorang yang suka mengenakan pakaian lawan jenisnya untuk merangsang kepuasan dalam berekspresi seksual. Sadomasokisme merupakan perilaku seksual yang senang berhubungan intim dengan perilaku kekerasan. Kedua variasi seksual ini merupakan gangguan seksual.

Risiko hal ini pada remaja menengah adalah transeksual dan transvesttive dimana apabila hal ini terjadi dan tidak secara tepat ditangani akan menyebabkan tekanan pada mental remaja tersebut.


SIKAP TERHADAP KESEHATAN SEKSUAL PADA ANAK USIA 13-15 TAHUN

Sikap Seksual Klien

Klien dalam konteks ini adalah remaja usia 13-15 tahun dimana sikap mereka terhadap seksual adalah kemauan diri pribadinya. Remaja menengah sudah tidak asing lagi terhadap gay, lesbian, masturbasi, orgasme, aborsi, kissing, dan meraba payudara dan kelamin serte oral seks. Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif remaja yang penasaran dan terus mencari tahu hal yang belum mereka tahu sehingga pada konteks kehidupan sehari-hari remaja akan sering menjumpai hal ini yang sebagian besar terus ditelaah dan dipraktikan karena rasa haus akan pengetahuan baru dan dipandang sangat menarik.

Perhatian utama remaja pada saat dimana mereka dihadapkan oleh sebuah pertanyaan dan istilah-istilah yang menjurus pada perilaku dan sikap seksualitas adalah apakah perilaku, sikap, dan perasaan seksual yang terus mereka cari tahu itu adalah normal? Karena mereka umumnya masih takut terhadap pendekatan kultural, sosial, religi, kesehatan dan teman sebaya yang menerapkan hal-hal tersebut dalam berbagai sudut pandang.

Di Amerika, Inggris, Australia, Jerman dan negara maju lainnya sudah menerapkan sex education pada siswa siswi jenjang sekolah menegah pertama awal. Hal ini merupakan kebijakan pemerintah dalam perlindungan anak yang mereka terapkan. Sehingga melindungi anak dari perilaku seks yang tidak berdasar pada ilmu dan pengalaman. Berbeda dengan negara Timur Tengah yang melarang sex education karena berhubungan dengan ”aurat”

Sikap Perawat Terhadap Seksualitas

Perawat harus bersikap profesional. Sikap profesionalan perawat dapat diaplikasikan dalam menghadapi sikap personal remaja dengan menerima keberadaan mereka, membiarkan mereka untuk terus memberikan informasi bagi perawat, serta menemukan solusi dalam menjalin kerjasama dengan remaja awal yang notabene belum mendapatkan jati diri secara utuh.

Salah satu intervensi keperawatan terhadap anak remaja (13-15 tahun) adalah dengan memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi kepada pelajar. Hal ini dirasa penting, karena melindungi pelajar dari kekeliruan pandangan seksualitas remaja. Perawat dapat bekerjasama dengan Puskesmas dan UKS melalui lintas program dan langsung memberikan penyuluhan kepada pelajar.

Sikap Orang Tua Terhadap Seksualitas Anak Usia 13-15 Tahun

Orang tua sering mengalami kecemasan dalam menghadapi remaja menegah. Misalnya awal menstruasi, melihat anaknya merokok, tehu anaknya mempunyai pacar dll. Pada tahapan tumbuh kembang anak usia 13-15 tahun biasanya orang tua menjadi protektif kepada anaknay karena takut anaknya salah dalam mengambil tindakan dalam berperan seksual.

Anak usia 13-15 tahun juga memendang orang tua sama seperti dirinya yang pernah melakukan kesalahan dan tidak selalu mempunyai jawaban yang pasti. Sehingga anak akan mencari tahu apa yang belum mereka tahu dengan jalannya sendiri, sehingga anak akan merasa puas.


DAFTAR PUSTAKA

Perry dan Potter (2002) . Fundamental of Nursing . Jakarta : EGC

Stanhope dan Lancaster (1998) . Perawatan Kesehatan Mayarakat Suatu Proses
dan Praktik Untuk Peningkatan Kesehatan . Bandung : Yayasan Ikatan
Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran

Wong (2005) . Keperawatan Pediatrik Edisi 4 . Jakarta : EGC

0 komentar:

Poskan Komentar